Tuesday, 07 September 2010
Terima kasih atas kunjungan saudara ke website resmi YADA Institute; Saya berharap kunjungan ini membawa setiap saudara terlibat lebih jauh dan menjadi bagian dari YADA Institute, untuk bersama mengerjakan TRANSFORMASI PRILAKU SEKSUAL di Indonesia; Tuhan Yesus memberkati!
Advertisement
   
About YadaInstitute
The Founder
Visi Misi
Dasar Keyakinan
Latar Belakang
Our Program
Youth Confrence
Enrichment Program
Partnership
Radio Program
Opening Eyes

   
Memahami Oral-Seks Fantasi PDF Print E-mail
Written by Dr.Andik Wijaya, MRep.Med   

Saya NM ,saya ada 2 pertanyaan:
1. Apakah oral diperbolehkan karena mengingat mulutkan dipakai untuk memuliakan Tuhan, tapi bukankah mulut juga sumber dosa?
2. Apakah boleh memasturbasikan istri?

NM - 031 7215 xxxx
______________________________________________________________

Dok, saya mau tanya. Kalau saya sedang berhubungan dengan istri, tapi kalau tidak berimajinasi seks, nggak bisa puas? Apakah isi salah dok?

Dir - 081 2323 xxxx
______________________________________________________________

Dokter, apakah saat hubungan seks dengan istri, melalui variasi seks dengan sodomi itu dosa?

Jack - 081 5990 xxxx
______________________________________________________________

Bapak NM, Bapak Dir, Bapak Jack yang dikasihi Tuhan Yesus, terima kasih untuk pertanyaan yang dikirimkan.

Pertanyaan bapak masing-masing sangat spesifik, namun memiliki kemiripan dalam esensi nya. Dalam persepsi saya bapak-bapak ingin memahami sejauhmana variasi dalam hubungan seksual diperkenankan oleh Firman Tuhan. Uraian saya berikut akan menjawab semua pertanyaan bapak diatas.

Empat Dimensi Seksualitas:

Ketika Allah menciptakan manusia, Allah menciptakan mereka dengan identitas seksual yang jelas, laki-laki dan perempuan (Kejadian 1 : 26 - 27). Penciptaan yang seperti ini menjadikan manusia sebagai makhuk seksual. Sebagai makhluk seksual,manusia memiliki potensi dan sekaligus kebutuhan untuk menjalin relasi seksual dengan pasangan seksualnya. Jika kita kaji secara mendalam, kita akan menemukan bahwa seksualitas manusia memiliki 4 dimensi.

Dimensi pertama, dimensi rekreasi. Ketika Allah menciptakan manusia, Allah menciptakan mereka dengan suatu tanggung jawab yang jelas, yaitu memelihara dan mengusahakan taman eden (Kejadian 2 : 15). Siapapun, dengan tugas dan tanggung jawab apapun, akan menghadapi berbagai beban dan permasalahan yang melelahkan tubuh, jiwa maupun rohnya. Allah memahami dengan sangat baik bahwa manusia memerlukan rekreasi untuk menyegarkannya kembali sehingga cakap dan efektif dalam mengerjakan berbagai tanggung jawab yang dipikulnya. Untuk tujuan tersebut, Allah menetapkan hari sabat sebagai hari perhentian (Kejadian 2 : 1 – 3 ; Keluaran 20 : 8 – 11). Pada hari perhentian seperti ini, manusia akan menikmati rekreasi yang menyegarkan dan memulihkan kondisi tubuh, jiwa, dan rohnya. Lalu apa hubungan antara seks dan rekreasi? Berikut penjelasan saya. Penetapan Allah agar manusia mengusahakan dan mengelolah taman Eden (Kejadian 2 : 15) mendahului penetapan Allah akan pernikahan (Kejadian 2 : 18). Dari urutan penetapan yang seperti ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Pernikahan ditetapkan agar kapasitas manusia dalam mentaati panggilanNya untuk mengusahan dan mengelola taman Eden semakin dimaksimalkan.

Untuk kali ini, saya akan fokus pada peranan hubungan seksual dalam institusi pernikahan dalam peningkatkan efektifitas manusia dalam “mengelola taman Eden-nya”. Hubungan seksual yang memiliki empat fase (Desire, Excitement, Orgasm, Resolution ) memberikan kepuasan yang besar bagi suami-istri yang melakukannya. Dalam perspektif sexology, neurotransmitter jelas memiliki peranan dominan untuk dimensi rekreasi ini. Saat seseorang mengalami orgasme, tubuhnya akan mengalami berbagai macam perubahan fisiologis yang kompleks. Setidaknya ada 2 neuro-endocrine yang dihasilkan oleh tubuh saat terjadi orgasme, yaitu endorphine dan serotonine. Kedua zat ini menyebabkan tubuh menjadi amat rileks baik fisik maupun psikis. Kondisi rileks inilah yang saya katakan sebagai dimensi rekreasi dari seks. Jadi secara singkat bisa dikatakan: suami-istri yang melakukan hubungan seksual dan mengalami orgasme, tubuhnya menghasilan neuro-endorcrine yang menyebabkannya rileks; kondisi rileks inilah yang pada akhirnya menjadikan mereka lebih efektif dalam memenuhi berbagai tanggung jawab hidup mereka. Inilah dimensi Rekreasi.

Mereka yang berorientasi pada dimensi rekreasi, dan atau beranggapan bahwa seks hanya memiliki dimensi rekreasi saja, akan melakukan apa saja agar orgasme bisa dicapai semaksimal mungkin. Tapi seks bukan hanya memiliki dimensi rekreasi. Masih ada 3 dimensi lainnya.

Dimensi kedua, dimensi prokreasi. Sejak awal Allah telah menetapkan manusia sebagai ciptaan dengan kapasitas untuk bereproduksi (Kejadian 1 : 28 ; Kejadian 4 : 1). Untuk tujuan ini Allah telah memperlengkapi manusia dengan organ-organ reproduksi yang memungkinkan mereka untuk bereproduksi. Didalam tubuh seorang pria triliunan sperma diproduksi sepanjang hidupnya, itu sebab nya hampir setiap saat seorang pria dewasa yang sehat bisa mengeluarkan sekitar 400 juta sel sperma dalam satu kali ejakulasi, sementara itu seorang wanita dibekali dengan 450.000 bakal sel telur yang akan mengamali kematangan rata-rata 1 sel telur setiap bulan nya.

Bagaimana sel telur dan sperma bisa bertemu? Hubungan seksual! Dimensi ini sangat jelas sejak awal penciptaan manusia; Karena itu, ketika dimensi rekreasi harus berjalan selaras dengan dimensi prokreasi, variasi dalam aktifitas seksual menjadi terbatas. Kontak genital antara penis dan vagina menjadi pilihan satu-satu nya yang memungkinkan 2 dimensi yaitu dimensi rekreasi dan prokreasi berjalan seiring.

Dimensi ketiga, dimensi relasi. Dalam Kejadian 4 : 1 KJV menulis demikian:
Gen 4:1 And Adam knew Eve his wife and she conceived, and bore Cain, and said, I have gotten a man from the LORD.

Kata bersetubuh dalam Alkitab bahasa Indonesia, ternyata dalam KJV digunakan kata knew (to know). Bila dipelajari dari akar kata dalam bahasa Ibrani, yaitu YADA, maka bisa dipahami bahwa hubungan seksual memiliki dimensi relasi. Adam knew Eve, yang diterjemahkan menjadi Adam bersetubuh dengan Hawa menyatakan bahwa hubungan seksual adalah suatu proses pengenalan, suatu proses membangun relasi, relasi yang sangat intim; itu sebabnya seks memiliki unsur keintiman. Seks memiliki dimensi relasi.

Siapapun yang menerima realita bahwa seks memiliki dimensi relasi, akan menyadari bahwa hubungan seksual harus menjadi sarana untuk menyatakan keintiman sekaligus untuk membangun keintiman.

Siapapun yang memahami hubungan seks itu memiliki dimensi rekreasi, prokreasi, serta relasi akan sangat mudah memahami catatan Firman Tuhan dalam Kidung Agung 2 : 6.
Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku.

Kidung Agung 2 : 6, memberikan gambaran implisit tentang posisi hubungan seksual. Dan gambaran ini mengarah pada kontak genital, face to face. Dengan posisi seperti ini, orgasme yang merupakan pencapaian dimensi rekreasi, kehamilan yang merupakan pencapaian dari dimensi prokreasi, serta keintiman yang merupakan pencapaian dimensi relasi akan bisa terpenuhi secara simultan. Pandangan mata antara suami-istri saat berhubungan seksual akan membangun keintiman yang semakin dalam, karena itu hubungan seksual face to face seperti di gambarkan dalam Kidung Agung 2 : 6 menjadi pilihan satu-satunya agar hubungan seksual dapat membangun relasi intim yang dalam.

Dimensi keempat, dimensi religi. Hubungan seksual adalah gambaran hubungan Kristus dengan Gereja yang penuh keintiman (Efesus 5 : 31 – 32). Monogami dan Monotheisme adalah pengajaran yang berjalan seiring. Monogami adalah relasi keintiman horisontal, Monotheisme adalah relasi keintiman vertikal. Segala macam bentuk penyimpangan, penolakan, pemberontakan terhadap monogami menghasilkan adultery. Segala macam bentuk penyimpangan, penolakan, pemberontakan terhadap monotheisme menghasilkan idolatry.

Dosa seks adalah dosa yang sangat serius, dan dihadapan Tuhan dosa seks setara dengan dosa Penyembahan berhala (Bilangan 25).

Siapapun yang memahami dimensi keempat dari hubungan seksual ini, akan sangat berhati-hati dan menghormati seksualitas yang dianugerahkan Tuhan dalam ikatan pernikahan.

Sekarang, mari kita kaji pertanyaan-pertanyaan diatas. Mungkinkah orang yang melakukan oral seks dan atau anal seks dapat mencapai pemenuhan dimensi kedua (prokreasi) atau dimensi ketiga (relasi) sementara tidak ada kontak genital serta kontak face to face? Tidak mungkin bukan?! Karena itu dalam pendapat saya oral seks dan anal seks bukan gagasan Allah. Pada kenyataannya ini adalah gagasan dari revolusi seksual yang dipelopori oleh Alfred C. Kinsey yang juga disebut sebagai the father of homosex revolution dan disebarluaskan melalui industri pornografi yang di pelopori oleh Hugh Hefner (Pendiri dan Pemilik majalah Playboy) yang juga dikenal sebagai the father of porn industries.

Bagi mereka yang hanya bisa puas jika berimajinasi seksual, mereka harus menguji apa yang mereka lakukan dengan kebenaran Firman Tuhan berikut:
Matius 5 : 28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Memberikan rangsangan tangan kepada istri (memasturbasi), bukan boleh atau tidak boleh? Tetapi mengapa harus dilakukan? Jika seseorang sulit mengalami kepuasan dalam berhubungan seksual dengan pasangannya, sebaiknya dicari akar masalahnya, karena problem seksual seringkali adalah problem kesehatan biasa, yang sangat mudah untuk diatasi.

Sekali lagi, ingatlah bahwa hubungan seksual memiliki empat dimensi, karena itu hubungan seksual dimana didalamnya terjadi kontak genital, face to face, dan penuh kemurnian dalam ikatan pernikahan heteroseks-monogami adalah satu-satunya hubungan seksual yang sesuai dengan Rancangan Allah. (draw)
Last Updated ( Friday, 13 June 2008 )
 
< Prev   Next >


All logos and trademarks in this site are property of their respective owners. Originally from RejuviNet.com and Redesigned by Jpermata WEB Indonesia 2008.

     
ShoutBox