Tuesday, 07 September 2010
Terima kasih atas kunjungan saudara ke website resmi YADA Institute; Saya berharap kunjungan ini membawa setiap saudara terlibat lebih jauh dan menjadi bagian dari YADA Institute, untuk bersama mengerjakan TRANSFORMASI PRILAKU SEKSUAL di Indonesia; Tuhan Yesus memberkati!
Advertisement
   
About YadaInstitute
The Founder
Visi Misi
Dasar Keyakinan
Latar Belakang
Our Program
Youth Confrence
Enrichment Program
Partnership
Radio Program
Opening Eyes

   
Polygamy PDF Print E-mail
Written by Dr.Andik Wijaya, MRepMed   
Pada hari kelima polling tentang poligami di www.yadainstitute.org voter mencapai 43 dan 69,8 % setuju. Sejujurnya saya senang dengan banyaknya netter yang mampir di website YADA Institute dan memberikan suaranya, namun 69,8 % setuju merupakan angka yang mengejutkan dan sedikit merisaukan. Tetapi buru-buru saya katakan pada diri saya sendiri…ah ini kan hanya polling ...bisa saja voter adalah orang yang iseng dan tidak terlalu serius memikirkan pendapat yang mereka berikan.

Ada lagi cerita menarik di balik proses polling ini, yaitu ketika angka setuju mencapai 69,8% saya terdorong untuk menyebarkan hasil sementara polling tersebut via SMS ke beberapa teman dekat dan mailing list untuk mengetahui apa pendapat mereka tentang hasil ini. Salah seorang teman saya (dia tidak tahu kalau saya yang kirim SMS tersebut karena pakai nomor khusus YADA Institute) ternyata menanggapi dengan amat geram dan mengatakan dalam jawaban SMS nya “…anda ini jangan menyebarkan pengajaran sesat yang membingungkan anak-anak Tuhan” Saya bisa memahami kegeraman nya. Teman pelayanan saya yang lain mengatakan,’’.. ya mesti saja yang setuju banyak lha wong pernyataan polling nya disertai contoh tokoh-tokoh Alkitab yang melakukan praktek poligami’. Saya katakan kepada teman pelayanan saya yang satu ini,’… namanya juga polling bukan qualitative research “ Poligami rupanya direspon dengan cara yang amat beragam.

Setelah saya sebar SMS dan posting hasil sementara polling ke FicaNet, maka angkanya bergeser, pada hari ke-10 terdapat 65 voter dengan komposisi 50,8% setuju, 40% tidak setuju, dan 9,2% ragu-ragu. Polling ditutup pada tgl 31 maret 2007 dengan hasil akhir seperti berikut: jumlah voter 72; 45,8 % voter setuju bahwa Allah berkenan pada praktek poligami, sementara 45,8 tidak setuju dan 8,3 persen ragu-ragu. Suatu hasil yang menarik untuk dikaji lebih jauh.
Namun saya tidak akan memberi komentar apapun tentang hasil tersebut sebelum saya menjelaskan mengapa saya membuat polling tentang poligami ini. Ada dua hal yang melatar belakangi polling ini: pertama, saya memiliki pengalaman bahwa dalam setiap program Everlasting Intimacy baik berupa seminar, training, retreat maupun acara di radio banyak sekali yang bertanya tentang pandangan Kristen tentang poligami. Yang mengajukan pertanyaan seringkali dengan sangat bersemangat memberikan contoh tokoh-tokoh alkitab yang melakukan praktek poligami dan tampaknya Allah oke, oke saja. Hal kedua, semakin maraknya pemberitaan tentang Christian Polygamy movement, yang dimotori oleh Mark Henkle dan dimulai pada independence day 4 juli 1994.

Nah sekarang saatnya saya akan menyampaikan pandangan saya tentang poligami. Saya percaya sepenuhnya: Alkitab yang menjadi standard tertinggi dalam hidup dan pelayanan saya mengajarkan bahwa gagasan orisinil Allah tentang relasi seksual yang dikehendakiNya adalah HETEROSEX MONOGAMY, dan Allah tidak pernah berkompromi dengan ide-ide relasi seksual yang lain.

Christian Polygamy Movement mendasarkan ide dan gerakannya pada tesis bahwa Musa menikahi dua wanita yang berbeda yaitu Zipora ( Keluaran 2: 21 ) dan perempuan Kusy atau perempuan etiopia (Bilangan 12: 1), dan dengan fakta tersebut Musa dianggap melakukan praktek poligami. Karena itu Mark Henkle mengatakan bahwa poligami adalah praktek yang bukan saja tidak berdosa tetapi memiliki landasan alkitabiah, karena penulis kitab torat (kejadian, keluaran, imamat, bilangan, ulangan) melakukan praktek poligami. Tesis ini mereka publikasikan dalam Truth Track yang dimuat dalam harian Standard Bearer.

Tesis ini sebenarnya justru menunjukkan bahwa Mark Henkle tidak memahami Firman Tuhan, namun merasa tahu dan akhirnya menyesatkan banyak orang; atau banyak orang yang pada dasarnya sudah atau ingin melakukan poligami dan menjadi terhibur karena prilaku mereka mendapat “pembenaran alkitabiah”.

Ada dua argument yang akan saya sampaikan untuk membuktikan bahwa tesis tersebut SALAH. Pertama, catatan alkitab tentang dua wanita berbeda yang menjadi istri Musa belum tentu menunjukkan bahwa Musa melakukan praktek poligami, bisa saja Musa menikahi perempuan etiopia tersebut setelah Zipora meninggal dunia (perlu studi lebih jauh tentang hal ini, kalau ada ahli PL yang mau berbagi informasi, saya sangat berterima kasih).

Kedua, andaikata Musa benar-benar melakukan praktek poligami, apa yang dilakukannya tidak bisa membatalkan kebenaran Firman Tuhan bahwa standar relasi seksual yang benar adalah HETEROSEX MONOGAMY (Kejadian 2: 24). Musa adalah penulis 5 kitab pertama PL, tetapi Musa bukan sumber kebenaran, bukan sumber Firman. Musa tidak lebih hanyalah manusia biasa yang dipilih oleh Allah untuk menuliskan kitab torat dalam inspirasi Roh Kudus (II Timotius 3: 16). Bahwa Musa adalah penulis kitab torat dan dia menulis kisah hidupnya yang melakukan praktek poligami (yang jelas-jelas bertentangan dengan norma Firman Tuhan) menunjukan Musa jujur, terbuka dan memiliki integritas yang tinggi, dan dengan cara itu sebenarnya Musa ingin menyatakan bahwa kalau dia dipakai Tuhan secara luar biasa dalam generasinya itu bukan karena dirinya cukup baik, namun anugrah Tuhan semata-mata.

Dengan tesis yang amat rapuh ini menunjukkan bahwa Christian Polygamy Movement sebenarnya tidak memiliki landasan alkitabiah, dan karena itu jelas tidak layak disebut sebagai Christian movement. Penggunaan nama Christian sangat menyesatkan dan sekaligus mendiskreditkan kekristenan, karena itu gereja-gereja diseluruh dunia harus dengan tegas menolak gerakan ini dan menuntut dihilangkannya kata Christian pada organisasai Mark Henkle tersebut.

Sekarang mari kita lihat apa yang sebenarnya alkitab katakan tentang relasi seksual yang digagas oleh Allah.
Ketika Allah menciptakan Hawa dan memberikan nya pada Adam sebagai penolongnya yang sepadan, tindakan Allah ini menyatakan secara implisit gagasan Allah tentang relasi seksual yang dikehendakiNya yaitu HETEROSEX MONOGAMY (Kejadian 2: 22). Apa yang yang tergambar secara implisit dalam kisah ini kemudian ditegaskan dalam pernyataan Firman yang eksplisit dalam:

Kejadian 2 : 24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Firman Tuhan ini menyatakan dengan jelas bahwa pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan istrinya, ini berbicara tentang HETEROSEX, sementara penegasan SEORANG laki-laki dan ISTRInya bukan istri-istri nya, berbicara tentang relasi MONOGAMY.

Kebenaran Firman Tuhan ini menjadi norma yang berlaku sepanjang zaman. Tuhan Yesus meneguhkan kebenaran ini dalam Matius 19 : 5. Peneguhan ini jelas menyatakan bahwa gagasan Allah tentang relasi seks dari awal penciptaan sampai kapanpun adalah HETEROSEX MONOGAMY.
42 % voter setuju bahwa praktek poligami yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kunci alkitab menunjukan bahwa Allah tidak terlalu mempermasalahkan praktek poligami yang mereka lakukan, dan terkesan oke, oke saja. Benarkah pandangan ini?

Mari kita teliti tiga tokoh penting dalam sejarah kerajaan Allah, yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub. Tiga tokoh ini adalah tiga pribadi yang amat penting, bahkan Allah sendiri begitu bangga disebut sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Meneliti relasi seksual ketiga tokoh ini dan sikap Allah terhadap relasi tersebut merupakan representasi yang amat memadai untuk dijadikan sebagai standart sikap Allah terhadap relasi seksual manusia.
Abraham; banyak orang menyangka Abraham melakukan praktek poligami dengan mengambil Sara dan Hagar sebagai istri. Kalau kita baca Firman Tuhan dengan teliti kita akan tahu bahwa Sarah adalah istri Abraham satu-satu nya, sementara Hagar tidak lebih adalah seorang pembantu perempuan yang menjadi wanita selingkuhan Abraham. Karena keraguan Sarah mendorong Abraham untuk mengambil Hagar sebagai surrogate mother (Kejadian 16: 2). Meskipun dikatakan dalam kejadian 16 : 3, bahwa Sarai memberikan Hagar kepada Abraham sebagai istri, namun tidak ada indikasi bahwa Hagar benar-benar menjadi istri Abraham yang sah. Sesudah Abraham melakukan hubungan seksual dengan Hagar, Hagar masih disebut sebagai hamba, tidak lebih dari itu (Kejadian 16 : 4-6). Bahkan Allah dengan tegas menyebut Hagar sebagai hamba Sarah, meskipun Hagar telah melahirkan Ismael: Hagar tidak pernah disebut sebagai istri Abraham. (Kejadian 16: 8, Kejadian 21 : 12).

Di hadapan Allah, Sarah adalah satu-satunya istri sah Abraham. Hagar tidak lebih hanyalah seorang pembantu yang kemudian di selingkuhi oleh Abraham atas inisiatif Sarah. Persetujuan Allah atas keinginan Sarah agar Abraham mengusir hamba dan anaknya si-Ismail (Kejadian 21 : 10-11) menegaskan keinginan Tuhan untuk memurnikan pernikahan Abraham; kembali kedalam relasi HETEROSEX MONOGAMY. Setelah itu Abraham dan Sarah kembali menikmati relasi seksual yang benar dalam ikatan HETEROSEX MONOGAMY, sampai kematian memisahkan mereka.

Setelah Sarah meninggal dunia (kejadian 23), Abraham menikah kembali dengan seorang wanita bernama Keturah (Kejadian 25 : 1-6). Dalam hal Keturah, Abraham tidak bisa dikatakan melakukan praktek Poligami, karena Sarah telah meninggal dunia.

Jadi jelas disini bahwa Abraham tidak pernah melakukan praktek poligami, namun dia melakukan perzinahan dengan menyelingkuhi Hagar. Meskipun perselingkuhan tersebut direstui, bahkan digagas oleh Sarah istri sah nya, dihadapan Tuhan tindakan ini tetap disebut perzinahan, tetap merupakan dosa.

Meskipun pernikahan Abraham dipulihkan, namun perselingkuhan ini memberi dampak yang serius. Akibat perselingkuhan ini Sarah mengalami penderitaan emosional yang tidak ringan. Dia dipandang rendah oleh Hagar, pembantunya itu. Penderitaan ini berlangsung sekitar 15 tahun; dengan perhitungan sebagai berikut: Waktu Ismail lahir Abraham berusia 86 tahun, berarti Abraham berusia sekitar 85 tahun ketika Hagar hamil (Kejadian 16 : 16). Andaikata penderitaan emosional Sarah berakhir ketika dia melahirkan Ishak dan kemudian Hagar diusir, penderitaan emosinal akibat perselingkuhan ini berlangsung selama 15 tahun, karena Abraham berusia 100 tahun ketika Ishak dilahirkan. (Kejadian 21 : 5).

Hagar mengalami penindasan akibat perselingkuhan ini, dia bukan saja mengalami penderitaan secara emosional namun sangat mungkin mengalami penderitaan secara fisik. (Kejadian 16 : 6b), bahkan Allah ‘mengijinkan’ penindasan itu (Kejadian 16 : 9), dan puncaknya Hagar diusir, dan Allah mengijinkan pengusiran itu (Kejadian 20 : 10, 12, 14 -16).

Selama 15 tahun Abraham terus menerus dalam situasi sulit karena pertikaian antara Sarah istri sah nya dengan Hagar wanita selingkuhannya itu. Puncaknya, ketika Sarah menyuruh dia mengusir Hagar dan Ismail. Alkitab mengatakan bahwa hati Abraham sangat sebal (Kejadian 21: 11). Mari kita teliti bagian ini lebih jauh. Dalam KJV bagian ini ditulis demikian: Gen 21:11 And the thing was very grievous in Abraham's sight because of his son. Kata sebal berasal dari kata grievous dalam bahasa inggris , berasal dari kata raw-ah' dalam bahasa ibrani. Secara literal kata ini berarti breaking to pieces. Hati Abraham hancur berkeping-keping atas peristiwa ini. Abraham mungkin tidak mengerti sepenuhnya mengapa Allah mengijinkan hal ini terjadi. Allah terkesan tidak mencegah ketika Sarah menyuruhnya untuk menjadikan Hagar sebagai surrogate mother , bahkan terkesan memberkati dengan dilahirkannya Ismail dalam keluarga ini. Selama 14 tahun kehidupan Ismail, Abraham telah membangun hubungan emosional yang amat dalam dengan anak nya ini, dia menyadari darah nya mengalir dalam diri remaja tampan, cerdas dan cekatan bernama Ismail ini. Abraham mungkin tidak memahami mengapa semua ini harus terjadi, namun Abraham tidak berdebat dengan Allah, Abraham taat meskipun dengan hati yang hancur berkeping-keping. Pada akhirnya dia menyuruh Hagar dan Isamil pergi meninggalkan rumahnya, ke padang gurun yang dia tahu amat ganas dan berbahaya, hatinya yang hancur ikut pergi bersama mereka.

Bukan hanya itu, selama 4000 tahun ini entah berapa banyak air mata, darah dan kematian terjadi akibat perselingkuhan ini? Keturunan Ismail tidak pernah hidup rukun dengan keturunan Ishak, sebagaimana dinubuatkan Allah sebelumnya. (Kejadian 16 : 12). Perselingkuhan, sekecil apapun dampak buruknya selalu besar.
Ishak; tidak ada yang menyangkal bahwa Ishak hidup dalam relasi seksual yang benar, HETEROSEX MONOGAMY, dengan Ribkah istrinya dan memelihara komitmen nya dalam situasi apapun, sampai kematin memisahkan mereka.

Ishak pernah mengalami situasi yang sulit dalam pernikahannya, yaitu ketika dia menjumpai fakta bahwa Ribkah istrinya, mandul. Dalam zaman dimana pengetahuan reproductive medicine begitu maju seperti sekarang, kemandulan jelas bukan sesuatu yang mudah untuk dihadapi, apalagi pada zaman Ishak dan Ribkah. Mereka yang mandul akan menjadi sangat tertekan secara emosional, sosial bahkan tidak jarang ada ‘spiritual stigma’, dikutuk oleh Tuhan karena dosa, Namun Ishak belajar dari kesalahan yang dibuat oleh ayahnya; Dia tahu siapa dirinya, siapa Ribkah istrinya, dan siapa Tuhan yang dia percaya; Dalam situasi sulit seperti ini dia tidak mengambil jalan pintas dengan mencari wanita lain untuk menjadi istri, atau sekedar sebagai surrogate mother . Ishak membawa situasi yang sulit ini kepada Tuhan dalam doa. Dia yakin, pasti akan ada jalan keluar, karena Tuhan telah berjanji kepada Abraham ayahnya, bahwa melalui dirinya (Ishak) keturunan Abraham akan seperti pasir di laut atau bintang-bintang di langit. Doa yang didasarkan pada janji Tuhan sendiri, terbukti begitu efektif. Ribkah hamil, dan melahirkan anak kembar, Esau dan Yakub.(Kejadian 25 : 21). Ishak telah membuktikan kesetiaannya pada mempelai perempuan.

Kalau kita meneliti figur Ishak, kita menemukan gambaran figuratif Tuhan Yesus Kristus, yang rela di korbankan, dan memiliki kesetiaan pada mempelai wanita.

Masih tentang gambaran figuratif ini, Abraham adalah gambaran figuratif Allah Bapa yang rela mengorbankan anakNya; Bedanya Abraham tidak dibiarkan sampai benar-benar mengeksekusi anaknya, tetapi Bapa di surga benar-benar melakukanya, dua ribu tahun yang lalu, ketika Yesus Kristus harus mati di atas kayu salib menanggung dosa manusia. Perintah untuk mengorbankan Ishak, membuat Abraham belajar, mengenal isi hati Bapa Surgawi, dan sedikit merasakan kehancuran hati Bapa ketika Anak Allah dikorbankan di atas kayu salib. Karena itu Bapa mengatakan bahwa Dia mengenal Abraham dengan tingkat pengenalan yang begitu dalam. Alkitab mengunakan kata YADA (Kejadian 18:19) untuk menyatakan pengenalan Allah terhadap Abraham; kata YADA juga dipakai untuk mengekspresikan pengenalan suami-istri yang begitu dalam melalui hubungan seksual (Kejadian 4:1). Dari sini kita lihat, bahwa Abraham memiliki keintiman dengan Allah seperti keintiman yang terjadi pada suami-istri. Allah berkenan memperkenalkan dirinya kepada Abraham, hal ini memungkinkan Abraham untuk membangun keintiman yang abadi dengan Allah seumur hidupnya, inilah Everlasting Intimacy.
Kalau Abraham menyatakan gambaran figuratif Allah Bapa, dan Ishak menyatakan gambaran figuratif Tuhan Yesus Kristus, maka Ribkah menunjukan gambaran figuratif gereja Tuhan. Alkitab mencatat bahwa Ribkah bersedia menikah dengan Ishak bahkan sebelum dia bertemu dan melihatnya (Kejadian 24: 58). Demikian pula gereja Tuhan, bersedia dipertunangkan dengan Kristus bahkan sebelum bertemu dan melihatNya muka dengan muka
(II Korintus 11: 2)

Yakub, adalah gambaran khas orang kristen. Hidupnya dipenuhi dengan banyak pergumulan, dan pertobatannya begitu radikal. Drama kehidupannya yang begitu keras dimulai ketika dia mendapat berkat kesulungan dari ayahnya, dengan cara mengakali kakaknya dan menipu ayahnya. Dalam pelariannya, Yakub mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah; Perjumpaan yang mengubahkan seluruh arah hidupnya. Termasuk dalam pertobatannya yang radikal adalah pertobatan dari poligami menjadi monogami.

Yakub adalah nama yang diberikan oleh orang tuanya (Kejadian 25: 26). Yakub memiliki arti supplanter – pengganti. Sebagaimana nama yang dimilikinya, dia benar-benar memiliki karakter seperti itu. Yakub menggantikan Esau dalam hal berkat kesulungan, dengan cara yang licik , penipuan.

Apa yang ditabur seseorang, itulah yang dituainya. Yakub menipu kakak dan ayahnya; Yakub ditipu Laban dalam soal pekerjaan dan perkawinannya dengan Rachel. Namun yang menarik untuk disimak adalah ketika Yakub menyadari bahwa dia ditipu soal Rachel, dia tidak menolak Lea. Dalam hukum pernikahan alkitabiah, Yakub boleh menolak Lea segera setelah dia menyadari ditipu, tetapi dia tidak melakukan itu. Dengan kata lain, Yakub menerima Lea sebagai istrinya yang sah, dan Tuhan meneguhkan itu sebagai satu-satu nya istri Yakub yang sah. Kisah selanjutnya kita tahu, bahwa Yakub akhirnya mendapat Rachel juga sebagai istrinya. Bahkan, Yakub memiliki dua gundik dari pembantu para istrinya. Semua fakta ini menunjukkan bahwa Yakub melakukan praktek poligami.

Kejadian 32: 24-30, adalah kisah perjumpaan Yakub dengan Allah (ay.30). Inilah titik balik kehidupan Yakub, alkitab mencatat bahwa Allah memberkati dia dan memberinya nama baru Israel, yang artinya “overcomer” or “prince of God—prevailer with God”. Sejak saat itu, pribadi yang baru nyata dalam kehidupan Israel. Kejadian 35 : 2 – 4, menyatakan pemurnian dalam kehidupan Israel, dan dalam proses pemurnian tersebut Allah “memanggil pulang” Rachel (Kejadian 35: 19) ; Peristiwa ini memurnikan pernikahan Yakub, mengembalikan dia pada istri masa muda nya (Amsal 5: 18). Pada akhirnya Yakub-Israel kembali pada hubungan monogami.

Praktek poligami yang dilakukan oleh Yakub, dilakukannya sebagai pribadi yang belum mengenal kebenaran. Alkitab mencatat dan melaporkannya pada kita secara jujur sebagai warisan pengajaran yang bernilai kekal. Kisah poligami Yakub mengajarkan betapa buruknya situasi pernikahan dan keluarga poligami; Pemurnian yang dilakukan Allah setelah pertobatan Yakub, menunjukkan konsistensi Allah pada gagasan Monogami.

Allah yang dinyatakan dalam Alkitab, yaitu Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, yaitu Allah yang disembah oleh orang kristen didalam Tuhan Yesus Kristus, adalah Allah yang membenci poligami, dan menjunjung tinggi Monogami.

Apa yang kita lihat dalam kehidupan Abraham, Ishak, dan Yakub adalah prinsip monogami yang Allah kehendaki dalam kehidupan pribadi leluhur bangsa pilihan, Israel. Namun apa yang pada mulanya merupakan standart yang dituntut dalam praktek kehidupan pribadi tersebut pada akhirnya berkembang menjadi suatu hukum yang diatur secara formal, seiring dengan perkembangan sejarah dimana Israel menjadi suatu kerajaan sebagaimana kerajaan-kerajaan lain di dunia. Dengan meneliti kehidupan 3 raja pertama, yaitu Saul, Daud, dan Salomo, kita akan tahu konsistensi Allah soal monogami. (draw)
Last Updated ( Thursday, 12 June 2008 )
 
< Prev   Next >


All logos and trademarks in this site are property of their respective owners. Originally from RejuviNet.com and Redesigned by Jpermata WEB Indonesia 2008.

     
ShoutBox