|
Suatu Kajian Seksologi tentang Pola Hubungan Seksual Hampir setiap orang, dihari pernikahannya meyakini monogami adalah pola hubungan seksual yang paling luhur, paling sehat, dan paling memuaskan. Namun dalam perjalanan pernikahan tersebut sebagian orang akan melakukan praktek Triple P, yaitu poligami, promiskuitas, atau prostitusi, dengan berbagai alasan pembenaranya.
Tulisan ini tidak dimaksutkan untuk menilai atau menyoroti kehidupan pribadi seseorang; Saya meyakini kehidupan seksual adalah sesuatu yang sangat pribadi, sesuatu dimana orang lain tidak mempunyai hak untuk mencampurinya. Tulisan ini dikategorikan sebagai simple scientific review, dimana sebagai seorang sexologist saya akan mencoba melakukan kajian berdasarkan disiplin ilmu yang saya tekuni yaitu sexual-reproductive medicine, tentang pola hubungan seksual yang terdapat dalam institusi monogami atau poligami serta dalam praktek promiskuitas dan prostitusi.
Dari empat pola hubungan seksual yang terdapat dalam praktek monogami, poligami, promiskuitas, dan prostitusi sebenarnya bisa dikelompokan hanya dalam dua kategori, berdasarkan jumlah sex partner dalam pola hubungan seksual tersebut; kategori pertama adalah single sex partner, disini hubungan seksual dilakukan hanya dengan satu orang sex partner seumur hidup seseorang sampai kematian memisahkan mereka. Yang termasuk dalam kategori ini adalah hubungan seksual dalam institusi pernikahan monogami; kategori kedua adalah multiple sex partner , disini hubungan seksual dilakukan dengan pasangan seksual yang lebih dari satu orang; dalam praktek poligami pasangan seksual adalah istri pertama, istri kedua dan seterusnya; dalam praktek promiskuitas pasangan seksual adalah orang yang tidak terikat secara hukum seperti dalam praktek poligami, hubungan seksual didasarkan semata-mata pada dorongan seksual kedua belah pihak; dalam praktek prostitusi hubungan seksual terjadi dalam suatu transaksi jual beli. Jadi meskipun ada berbedaan dalam hal status hukum dan pendorong terjadinya hubungan seksual, ketiga praktek hubungan seksual ini (poligami, promiskuitas, dan prostitusi) memiliki kesamaan yaitu jumlah sex partner lebih dari satu.
Dalam perspektif epidemiologi, hubungan seksual yang dilakukan dengan partner seksual yang berganti-ganti menjadi media penyebaran penyakit menular seksual. Fakta medis ini sangat mudah dipahami oleh siapa saja termasuk oleh orang awam sekalipun, sebab kontak seksual dengan orang yang mengidap suatu penyakit menular seksual seperti HIV, HPV, Chlamydia atau penyakit infeksi lain yang bisa ditularkan melalui kontak intim seperti hepatitis B misalnya, berpotensi menyebarkan penyakit yang ditularkan tersebut kepada setiap orang yang terlibat dalam aktifitas seksual yang bersifat multiple sex partner. Untuk jelasnya saya akan beri contoh dengan kasus berikut ini: seorang pria sehat yang melakukan hubungan seksual dengan wanita yang mengidap penyakit menular seksual tertentu mungkin HIV, HPV, atau Chlamydia, maka pria tersebut akan tertular; bila pria ini kemudian melakukan hubungan seksual dengan wanita lain (istri ke-sekian, wil, atau prostitusi ), maka wanita-wanita ini akan berpotensi tertular. Yang harus dipahami oleh masyarakat adalah bahwa status hukum suatu hubungan seksual tidak menghilangkan resiko terjadinya penularan penyakit seperti diuraikan diatas. Saya ingin lebih tegas dalam pokok ini, karena ada persepsi yang keliru pada sebagian masyarakat. Salah satu contoh dari persepsi yang keliru ini pernah saya lihat dalam suatu poster yang dibawa oleh sekelompok orang yang melakukan demo, poster tersebut berbunyi “Cegah HIV; Berantas prostitusi, Legalkan Poligami”. Dalam konteks seksologi dan preventive medicine slogan ini tidak benar, dan sangat berbahaya; poligami dan prostitusi masuk dalam kategori pola hubungan multiple sex partner ; status hukum sebagai istri sah ke-sekian pada praktek poligami tidak akan menghilangkan fakta medis, bahwa intensitas penularan penyakit seksual pada hubungan seks yang dilakukan dengan pasangan seksual yang berganti-ganti sangat tinggi. Bukankah sudah banyak kasus, istri-istri yang baik tiba-tiba tertular HIV karena ditulari oleh suaminya yang melakukan hubungan seksual dengan wanita lain ( wanita lain ini bisa saja istri lain yang sah secara hukum, wil, atau prostitusi ). Karena itu dalam konteks pencegahan penyakit menular seksual slogan yang tepat adalah “ Cegah HIV, Hindari Berganti-ganti Pasangan Seksual”. Tentu bukan hanya penularan HIV yang kita risaukan, sebab penularan HPV (Human Papilloma Virus) juga tidak kala mengerikan, sebab penyakit ini jelas bisa berkembang menjadi kanker mulut rahim, maupun kanker penis, sementara Chlamydia bisa berdampak pada terjadinya infertility (mandul).
Pada awal tahun 1990 an, Uganda yang berlokasi di Afrika Timur mengalami malapetaka besar sebagai negara dengan jumlah kasus HIV-AIDS terbesar di dunia yang jumlahnya mencapai sekitar 30 % dari total populasinya. Kondisi ini menempatkan Uganda pada situasi terancam punah karena kematian masal penduduknya; Namun hari ini angka tersebut telah turun menjadi sekitar 10 %; Angka penularan turun dari 15% pada tahun 1991 menjadi dibawah 5 % pada tahun 2001. Uganda adalah negara paling berhasil dalam menurunkan tingkat penularan HIV-AIDS dibandingkan negara-negara lain. Bagaimana hal yang dasayat ini bisa terjadi? President Uganda, Yoweri Museveni meyakini bahwa pola hubungan seksual yang luhur, sehat, dan memuaskan dalam ikatan pernikahan HETEROSEKS MONOGAMI sebagaimana digagas oleh Firman Tuhan, adalah cara paling efektif untuk menekan tingkat penularan HIV-AIDS dinegaranya; Karena itu dibawah kepemimpinannya dia melakukan kampanye Zero Grazing, yaitu kampanye untuk setia dengan satu pasangan seksual atau single sex partner dalam ikatan pernikahan heteroseks monogami dan meninggalkan pola hubungan multiple sex partner seperti yang saya sebut dengan istilah triple p yaitu poligami, promiskuitas, dan prostitusi. Kampanye tersebut ditanggapi dengan hati dan pikiran yang terbuka oleh rakyat Uganda; Ditanggapi dengan hati terbuka karena untuk menjalani kehidupan dengan single sex partner merupakan keputusan hati untuk hidup secara luhur; Ditanggapi dengan pikiran terbuka, karena untuk meninggalkan pola hubungan multiple sex partner adalah keputusan untuk memiliki kehidupan yang lebih sehat dan memuaskan, suatu pilihan cerdas yang sejalan dengan nalar sehat manusia. Tanggapan yang positif terlihat dari angka statistik dibawah ini: pada tahun 1989 jumlah penduduk yang terlibat dalam aktifitas multiple sex partner, triple p sebesar 41 %, turun menjadi 21 % pada pria dan 9 % pada wanita pada tahun 1995; Dalam kurun waktu tahun 1989-1995, hubungan seksual sebelum menikah turun dari 60 % menjadi 23 % pada remaja pria, dan dari 53 % menjadi 16 % pada remaja putri. Data medis ini menegaskan bahwa pola hubungan single sex partner dalam institusi pernikahan heteroseks monogami adalah pola hubungan seksual yang paling sehat, sedangkan pola hubungan multiple sex partner pada praktek triple p jelas memberi kontribusi pada penyebaran berbagai penyakit menular seksual, untuk kasus di Uganda penyakit yang ditularkan adalah HIV-AIDS. Melalui kepemimpinan Yoweri Museveni, Uganda mengalami Transformasi Prilaku Seksual yang mengubahkan wajah dan masa depan Uganda. YADA Institute mengajak setiap saudara untuk mulai berdoa bagi Transformasi Prilaku Seksual di Indonesia, agar Indonesia memiliki wajah dan masa depan yang lebih indah.
Pelaku triple p (poligami, promiskuitas, prostitusi) seringkali menyatakan bahwa pria memiliki dorongan atau kebutuhuan untuk melakukan hubungan seksual lebih besar dibandingkan dengan wanita. Ini adalah anggapan yang keliru, sama sekali tidak ada dasar scientific nya. Dalam berbagi riset seksologi terbukti bahwa seksualitas pria dan wanita itu equal. Dari publikasi klasik yang dilakukan oleh Giant of Sexologist William Master & Virginia Johnson tentang Human Sexual Response, jelas sekali terlihat kesetaraan seksualitas pria dan wanita. Bahkan wanita tidak memiliki Fase Refrakter, yang artinya setelah orgasme seorang wanita masih bisa menerima rangsangan seksual lagi lalu orgasme lagi; sementara seorang pria butuh waktu beberapa jam sampai beberapa hari untuk bisa menanggapi rangsangan seksual lagi. Fakta medis ini menunjukan bahwa bila seorang pria memiliki beberapa pasangan seksual wanita, maka hampir bisa dipastikan wanita-wanita tersebut cenderung tidak akan terpenuhi kebutuhan seksualnya, lebih buruk lagi wanita-wanita tersebut berpeluang untuk mencari pemenuhan kebutuhan seksual dengan cara atau dengan pria lain selain pasangan tetapnya tersebut. Karena memang seksualitas pria dan wanita itu setara; Satu pria hanya mampu memenuhi kebutuhan seksual satu wanita, demikian pula sebaliknya. Berdasarkan penelitian Master & Johnson diatas jelas bahwa pola hubungan single sex partner adalah pola hubungan seksual yang menjamin kepuasan pada kedua belah pihak, sebab kebutuhan dan potensi seksual pria dan wanita itu setara. Sebaliknya didalam praktek multiple sex partner pasti ada pihak yang tidak terpenuhi kebutuhan seksualnya, karena itu tidak heran pasangan seksual pria yang memiliki multiple sex partner cenderung akan mencari penuhan seksual dengan cara atau pria lain.
Hubungan seksual yang terjadi antara pria dan wanita memiliki dimensi yang lebih dalam dari sekedar kepuasan fisik; Hubungan seksual sangat terkait dengan proses keintiman. Hubungan intim pada dasarnya memiliki tiga elemen, yaitu keintiman fisik, keintiman psikis, dan keintiman spiritual. Saya menggambarkan ketiga elemen keintiman ini seperti lingkaran tiga lapis, dimana lingkaran paling dalam adalah spiritual intimacy, yang menjadi pusat dan inti hubungan yang penuh keintiman. Sementara lingkaran kedua adalah psychological intimacy yang menjadi kerangka dari suatu hubungan intim, dan lapis ketiga adalah physical intimacy yang merupakan kulit dari suatu hubungan intim. Bisa dipahami bahwa hubungan pria dan wanita yang hanya berdasarkan physical intimacy menjadi sangat dangkal, kering dan amat rapuh. Praktek triple p cenderung hanya pada lapis terluar dari suatu keintiman, tanpa inti dan kerangka, karena praktek triple p adalah pola hubungan yang mengedepankan dorongan seksual, yang berorientasi pada kepuasan fisik semata. Praktek triple p jelas menggambarkan pemenuhan keintiman pada lapis terluar, sementara lapis kedua dan pertama tidak terpenuhi. Dampaknya sangat jelas, akan ada kekosongan bathin bagi pelakunya, dan hubungan mereka pun akan sangat rapuh. Yang sangat menyedihkan banyak sekali korban dari praktek triple p ‘dipaksa’ untuk berpura-pura rela dan bahagia; suatu bentuk kekerasan dalam rumah tangga bahkan suatu kejahatan terhadap kemanusian.
Mungkin jalan monogami tidak akan seramai jalan triple p; tetapi monogami tetap merupakan satu-satunya jalan menuju pola hubungan seksual pria dan wanita yang luhur, sehat, dan memuaskan. Karena itu pada kesempatan ini saya ingin mengajak sebanyak mungkin pribadi yang ingin menjalani kehidupan yang luhur, sehat dan memuaskan untuk Menapak Jalan Sepi Monogami, dan meninggalkan jalan triple p.
Sebab sejak awal penciptaan, gagasan relasi seksual yang benar adalah Heteroseks Monogami, seperti tertulis: Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. ( Kejadian 2: 24-25)
Karena itu: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)”
Mari kita mulai Gerakan Transformasi Prilaku Seksual di Indonesia, dengan Menapak Jalan Sepi Monogami. (draw)
|